Aksiologi Pgmi
Aksiologi Pgmi
Oleh Nur Hidayah
Nurhidayahritonga1920@gmail.com
ABSTRAK
Education is a powerful tool to change the world by changing the behavior of society to be better. In Islamic education, one most important thing is the education of belief, because it all starts from it. Faith is the foundation of knowledge and value. Islam emphasizes how important it is to teach values to kids in primary school level and how important is the role of parents and teacher. This method is very essential to build strong values for kids so that those values which are taught from that age would last forever. This happens because kids have powerfull memory to remember everything. This paper explaines the importance of teaching values to primary school students and the best methods to instill Islamic values related to “ akidah” in age 7 – 13 years old by using axiology theory and theory to relate it to philosophy. Axiology is one of philosophy study which focuses on the theory of values. Its study contains about how to reach knowledge to get values in ethic, logic and aesthetic ways. The result of this paper explaines that there are some steps which can be used for teachers in primary school to educate students about values in general and about Islamic values which most of students have the foundation before from their parents.
ABSTRAK
Pendidikan adalah alat yang ampuh untuk mengubah dunia dengan mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih baik. Dalam pendidikan Islam, salah satu yang terpenting adalah pendidikan akidah, karena semua berawal darinya. Iman adalah dasar pengetahuan dan nilai. Islam menekankan betapa pentingnya mengajarkan nilai-nilai kepada anak-anak di tingkat sekolah dasar dan betapa pentingnya peran orang tua dan guru. Metode ini sangat penting untuk membangun nilai-nilai yang kuat bagi anak-anak sehingga nilai-nilai yang diajarkan sejak usia itu akan bertahan selamanya. Ini terjadi karena anak-anak memiliki ingatan yang kuat untuk mengingat semuanya . Makalah ini menjelaskan tentang pentingnya mengajarkan nilai-nilai kepada siswa sekolah dasar dan metode terbaik untuk menanamkan nilai-nilai Islam yang berkaitan dengan “akidah” pada usia 7 – 13 tahun dengan menggunakan teori dan teori aksiologi untuk menghubungkan dengan filsafat. Aksiologi merupakan salah satu kajian filsafat yang menitikberatkan pada teori nilai. Kajian berisi tentang bagaimana meraih pengetahuan untuk mendapatkan nilai-nilai dengan cara-cara yang etis, logis dan estetis. Hasil dari jurnal ini menjelaskan langkah yang dapat digunakan guru di sekolah dasar untuk mendidik siswa tentang nilai-nilai secara umum dan tentang nilai-nilai Islam yang sebagian besar siswa memiliki landasan sebelumnya dari orang tua mereka.
Kata Kunci : Filsafat Ilmu, Psikologi, Logistik
PENDAHULUAN
Pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Berbedanya cara dalam mendapatkan pengetahuan tersebut serta tentang apa yang dikaji oleh pengetahuan tersebut membedakan antara jenis pengetahuan yang satu dengan yang lainnya. Pengetahuan dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran. Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan melalui suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses penarikannya dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, di mana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara sahih”. Pengetahuan banyak jenisnya, salah satunya adalah ilmu.
Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang objek telaahnya adalah dunia empiris dan proses pendapatkan pengetahuannya sangat ketat yaitu menggunakan metode ilmiah. Ilmu menggabungkan logika deduktif dan induktif, dan penentu kebenaran ilmu tersebut adalah dunia empiris yang merupakan sumber dari ilmu itu sendiri. Pengetahuan adalah semua yang diketahui. Ada orang bertanya, mengapa jeruk selalu berbuah jeruk, tidak pernah berbuah bakso misalnya?. Untuk menjawab pertanyaan ini orang tidak dapat lagi mengadakan penelitian empiris karean objek yang hendak diketahui itu sebenarnya pada bibit atau pohon jeruk itu. Lalu, bagaimana cara mengetahuinya, bagaimana menjawab pertanyaan tadi? Dengan berpikir, dan hanya dengan berpikir. Kita menemukan jawaban jeruk selalu berbuah jeruk karena ada hukum yang mengatur.
Aksiologi Pgmi
Aksiologi menurut bahasa berasal dari bahasa Yunani “axios” yang berarti, bermanfaat dan„ logos‟ berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Secara istilah, aksiologia dalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang ditinjau dari sudut kefilsafatan. Sejalan dengan itu, maka aksiologi adalah studi tentang hakikat tertinggi, realitas, dan arti dari nilai-nilai (kebaikan, keindahan, dan kebenaran).
Dengan demikian aksiologi adalah studi tentang hakikat tertinggi dari nilai-nilai etika dan estetika.1 Menurut kamus Bahasa Indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika.2 Sementara Suriasumantri mengatakan, aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Dikatakan bahwa aksiologi adalah suatu pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia dan menjaganya, membinanya di dalam kepribadian peserta didik.
Dengan demikian aksiologi adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai-nilai atau norma-norma terhadap sesuatu ilmu.4 Mengenai nilai itu sendiri dapat jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti katakata adil dan tidak adil, jujur dan curang, benar dan salah, baik dan tidak baik. Hal itu semua mengandung penilaian karena manusia yang dengan perbuatannya berhasrat mencapai atau merealisasikan nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai, pertimbangan tentang apa yang dinilai. Aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, pada umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan.
Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai seperti, epistimologis, etika dan estetika. Epistimologi bersangkutan dengan masalah kebenaran, etika bersangkutan dengan masalah kebaikan, dan estetika bersangkutan dengan masalah keindahan. Aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, pada umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti epistimologis, etika dan estetika. Epistimologi bersangkutan dengan masalah kebenaran, etika bersangkutan dengan masalah kebaikan, dan estetika bersangkutan dengan masalah.keindahan.
Dari definisi-definisi aksiologi di atas, dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia, untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu kepada permasalahan etika dan estetika. Etika menilai perbuatan, manusia, maka lebih tepat kalau dikatakan bahwa objek formal etika adalah norma-norma, kesusilaan manusia. Dapat dikatakan pula bahwa etika mempelajari tingkah laku manusia ditinjau dari segi baik dan tidak baik, di dalam suatu kondisi yang normative yaitu, suatu kondisi yang melibatkan norma-norma. 6 Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya.
Aksiologi Dalam Islam
Aksiologi dalam islam adalah ilmu yang mempelajari entang nilai atau etika. Dan etika (ahklak) merupakan tujuan pokok bagi orang yang mempelajari ilmu itu sendiri. Sebagian lain berpendapat, bahwa ilmu adalah sebagai jalan, atau sarana untuk memperoleh etika, kemudahan-kemudahan dalam hidupnya di dunia.7 Sedangkan Kontowijoyo menyebutkan aksiologi dalam paradigm islam yaitu ilmu tidak ada yang benar-benar netral. Ilmu pada dasarnya tidak ada yang bebas nilai, ia syarat dengan bias-bias kepentingan perumusnya dan pembuatnya. 8 Ilmu modern yang selama ini sering diklaim sebagai bebas nilai, sehingga dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, ternyata tidak lepas dari nilai-nilai yang dianut oleh penganutnya, seperti filsafat barat.
Dalam konstruksi keilmuan islam, ilmu bekerja dalam bingkai paradigm islam itu sendiri, dimana ilmu bersumber langsung dari teks wahyu Al-quran. Maka nilai etis yang terkandung dalam ilmu keislaman berada dalam bingkai etika-moral yang sangat erat. Karena misi kenabian Muhammad Saw adalah membangun etika-moral (ahlak). Kontowiyowo menyebut Etika –Moral dengan etika Profetik. Nilai etika profetik itu sendiri berasal dari ahklak Nabi Muhammad Saw dan sumbernya adalah wahyu Allah Swt.
Oleh karena itu, ada perbedaan pendapat tentang aksiologi dalam pandangan Barat dan Islam. Pertama, menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik secara ontologis maupun aksiologis. Dalam hal ini, ilmuwan Barat adalah menemukan pengetahuan dan terserah pada orang lain untuk mempergunakannya, apakanh ilmu tersebut digunakan untuk tujuan baik atau untuk tujuan buruk.
Kedua berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisika keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya ilmu terletak pada objek penelitian harus dilandaskan pada asas-asas moral. Oleh karena itu, bahwa ilmu tidak ada yang benar-benar bebas nilai, tetapi disangat tergantung kepada siapa dan dokma yang diyakini. Sedangkan aksiologi Islam, memandang bahwa ilmu itu berasal dari Allah Swt, sang maha pencipta (pemberi Nilai). Karena nilai kebaikan dan keburukan itu sejatinya adalah dari tuhan untuk manusia. Dan manusia yang akan memberikan nilai terhadap prilaku dan perbuatan.
Teori Nilai
Apa sebenarnya nilai itu? nilai sebagai sesuatu yang menarik bagi seseorang, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang dicari, sesuatu yang disukai dan diinginkan. Pendeknya, nilai adalah sesuatu yang baik.Lawan dari nilai adalah non-nilai atau disvalue. Ada yang mengatakan disvalue sebagai nilai negatif. Sedangkan sesuatu yang baik adalah nilai positif.12 Hans Jonas, seorang filsuf Jerman-Amerika, mengatakan nilai sebagai the addresse of a yes. Sesuatu yang ditujukan dengan ya. Nilai adalah sesuatu yang kita iya-kan tau yang kita aminkan. Nilai selalu memiliki konotasi yang positif.
Ada tiga ciri yang dapat kita kenali dengan nilai, yaitu nilai yang berkaitan subjektif, praktis, dan sesuatu yang ditambahkan pada objek. Pertama, nilai berkaitan dengan subjek. Artinya, nilai itu berkaitan dengan kehadiran manusia sebagai subjek. Kalau tidak ada manusia yang memberi nilai, nilai itu tidak akan pernah ada. Tanpa kehadiran manusia pun, kalau Gunung Merapi meletus ya tetap meletus. Alasannya sekarang, ketika Gunung Merapi meletus misalnya, apakah itu sesuatu yang “indah” ataukah “membahayakan” bagi kehidupan manusia. Kesemuanya itu tetap memerlukan kehadiran manusia untuk, memberikan penilaian.
Dalam hal ini nilai subjektivitas memang bergantung, semata-mata pada pengalaman manusia. Kedua, nilai dalam konteks praktis. Yaitu, subjek ingin membuat sesuatu, seperti lukisan, gerabah, dan lain-lain. Ketiga, berkaitan dengan nilai tambah pada,objek. Nilai tambah itu dapat berupa budaya, estetis, kewajiban, kesucian, kebenaran, maupun yang lainnya.Bisa jadi objek yang sama akan memiliki nilai yang berbeda-beda bagi perbagai subjek.
Perbedaan antara nilai sesuatu itu disebabkan sifat nilai itu sendiri. Nilai bersifat ide atau abstrak (tidak nyata). Nilai bukanlah suatu fakta yang dapat ditangkap oleh indra. Tingkah laku perbuatan manusia atau sesuatu yang mempunyai nilai itulah yang dapat ditangkap oleh indra karena ia bukan fakta,yang nyata. Jika kembali kepada ilmupengetahuan, kita akan membahas masalah,benar dan tidak benar. Kebenaran adalah persoalan logika dimana persoalan nilai,adalah persoalan penghayatan, perasaan, dan kepuasan. Ringkasan persoalan nilai, bukanlah membahas kebenaran dan kesalahan (benar dan salah) akan tetapi masalahnya ialah soal baik dan buruk, senang atau tidak senang.
Masalah kebenaran memang tidak terlepas dari nilai, tetapi nilai adalah menurut nilai logika. Teori nilai adalah menyelesaikan masalah etika dan estetika.Teori nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika. Etika memiliki dua arti yaitu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan manusia, dan predikat yang dipakai untuk membedakan perbuatan,tingkah laku, atau yang lainnya. Nilai itu bersifat objektif, tapi kadang-kadang, bersifat subjektif. Dikatakan objektif, jika nilainilai tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan,berada pada objeknya, bukan pada subjek yang melakukan penilaian.
Kebenaran, tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada,objektivitas fakta. Sebaliknya, nilai menjadi subjektif, apabila subjek berperan dalam memberi penilaian; kesadaran manusia menjadi tolak ukur penilaian. Dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
Nilai dan Fakta
Ada perbedaan antara pertimbangan nilai dengan pertimbangan fakta. Fakta berbentuk kenyataan, ia dapat ditangkap dengan panca indra, sedang nilai hanya dapat dihayati. Walaupun para filosof berbeda pandangan tentang difenisi nilai, namun pada umumnya menganggap bahwa nilai adalah pertimbangan tentang penghargaan. Pertimbangan fakta dan pertimbangan nilai tidak dapat dipisahkan, diantara keduanya karena saling memengaruhi. Sifat-sifat benda yang dapat diamati juga termasuk dalam penilaian. Jika fakta berubah, maka penilaian kita berubah, ini berarti pertimbangan nilai dipengaruhi oleh fakta.
Adapun cakupan dari nilai etika adalah ukuran perbuatan yang baik yang berlaku secara universal bagi seluruh manusia, apakah dasar yang dipakai untuk menentukan adanya norma-norma universal tersebut, apakah yang dimaksud dengan pengertian baik dan buruk dalam perbuatan manusia, apakah yang dimaksud dengan kewajiban dan apakah implikasi suatu perbuatan baik dan buruk. Nilai etika diperuntukkan pada manusia saja, selain manusia (binatang, benda, alam) tidak mengandung nilai etika, karena itu tidak mungkin dihukum baik atau buruk, salah atau benar.
Adapun estetika merupakan nilai-nilai yang berhubungan dengan kreasi seni, dan pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan seni atau kesenian. Kadang estetika diartikan sebagai filsafat seni dan kadang-kadang prinsip yang berhubungan dengan estetika dinyatakan dengan keindahan. Syarat estetika terbatas pada lingkungannya, disamping juga terikat dengan ukuran-ukuran etika. Etika menuntut supaya yang bagus itu baik. Lukisan seni dapat mengandung nilai estetika, tetapi akal sehat menolaknya, karena tidak etika. Sehingga kadang orang mementingkan nilai panca-indra dan mengabaikan nilai ruhani. Orang hanya mencari nilai nikmat tanpa mempersoalkan, apakah ia baik atau buruk. Nilai estetika tanpa diikat oleh ukuran etika dapat berakibat mudarat kepada estetika, dan dapat merusak.
B. Pembagian Aksiolgi
Menurut Bramel, aksiologi terbagi tiga bagian, yaitu :
1. Moral Conduct, yaitu tindakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus, yaitu etika.
2. Estetic Expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan.
Menurut Covey, manusia diharapkan mampu mengembangkan daya rohaniahnya tersebut, sehingga manusia tidak menjadi korban keadaan, dan tidak bersifat reaktif terhadap keadaan, tetapi mampu berperanan sebagai subyek dalam menghadapi keadaan, dan mampu merasakan, memikirkan, mempertimbangkan, dan akhirnya menghasilkan keputusan kehendak untuk menghadapi dan menangani keadaan tersebut untuk mewujudkan nilai-nilai kehidupan yang lebih baik dan lebih luhur.
Daya pikir atau cipta manusia perlu dikembangkan, agar mampu menganalisa (mengurai) tentang hal yang dihadapi, untuk mamahami bagian-bagiannya, memahami saling keterkaitan bagian-bagian satu sama lain, memahami hubungan sebab akibat antara hal yang satu dengan lainnya, dan agar mampu mensintesakan (merangkai) bagian bagian yang ada, untuk mewujudkan satu kesatuan yang sistematis.
Dengan akal, manusia diharapkan dapat memperoleh pencerahan, penjelasan, keterangan tentang hal yang dipikirkan, menghasilkan pemahaman atau gambaran yang jelas dan benar tentang yang dipikirkan tersebut. Pemahaman yang jelas dan benar inilah dapat menjadi modal untuk mengembangkan pengetahuan lebih lanjut, dan selanjutnya dapat dipakai sebagai sarana untuk mengambil keputusan tindakan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.
Selain daya cipta yang dapat membantu memberikan pemahaman yang jelas dan benar tentang berbagai hal dan masalah yang dihadapinya untuk diselesaikan, manusia juga memiliki kehendak atau kemauan bebas untuk dapat memilih tindakan yang mungkin dilakukannya. Sehingga selain pengetahuan, manusia juga memiliki kemauan untuk melakukan tindakan yang dipilihnya. Namun meskipun manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih dalam bertindak, ternyata manusia tidak memilih dengan semena-mena dan justru karena tindakan tersebut disadari, maka manusia perlu mempertanggung jawabkan tindakannya.
Menurut frans Magnes Suseno, manusia perlu mendobrak kesadaran moral hedronom dan beralih kepada moral otonom. Kesadaran moral heteronom adalah sikap orang yang memenuhi kewajiban moralnya bukan karena ia insaf bahwa kewajiban itu pantas dipenuhi, melainkan karena ia tertekan, takut berdosa, takut dikutuk Tuhan dan sebagainya.
Kesadaran moral heteronom berarti bahwa orang tersebut mentaati peraturan, tetapi tanpa melihat nilai atau maknanya. Ia hidup sesuai dengan tuntutan-tuntutan moral lingkungannya, bukan karena kesadaran maknanya, melainkan karena takut ditegur, takut berdosa, dan karena tak berani mengambil sikap sendiri. Heteronomi moral adalah penyimpangan dari sikap moral yang sebenarnya.
Dalam islam, AlMaududi (1967:37-38) dalam bukunya Islamic Way of life menejelaskan,' kehidupan manusia harus bersinergi antara hidup di dunia dan akhirat. Dimana dalam way of Lift, bahwa sistem normal Islam itu kehidupan di dunia manusia harus berkaitan dengan agama. Manusia memiliki ciri-ciri yang komprehensif, yang senantiasa mengabdikan diri kepada Allah sebagai hamba-Nya untuk memperoleh ridha untuk kebahagiaan kelak.
Oleh sebab itu, ilmu harus memandang, bahwa tujuan ilmu sama dengan tujuan agama, yaitu untuk kesejahteraan umat manusia. Karena ilmu memiliki perhatian besar terhadap pendidikan jiwa manusia dan pertumbuhannya, serta menghendaki kepribadian yang luhur. Dan bahwa orangyang mencari ilmu adalah sama dengan mencari hakekat (kebenaran).
Ciri-ciri manusia lain tersebut antara lain sebagai berikut:
1). Keridhaan Allah merupa-kan tujuan hidup Muslim dan merupakan sumber standar moral yang tinggi serta menjadi jalan bagi evaluasi moral kemanusiaan. Sikap mencari ridha Allah memberikan sanksi moral untuk mencintai dan takut kepada-Nya, yang pada gilirannya mendorong manusia untuk mentaati hukum moral tanpa paksaan dari luar. Dengan dilandasi iman kepada Allah dan hari kiamat, manusia terdorong untuk mengikuti bimbingan moral secara sungguh-sungguh clan jujur, seraya berserah diri secara ikhlas kepada Allah .
2). Semua lingkup kehidupan manusia senantiasa ditegakkan di atas moral Islami, sehingga moral tersebut berkuasa penuh atas semua urusan. Hawa nafsu clan kepentingan pribadi tidak diberi kesempatan untuk menguasaid kehidupan manusia. Moral Islam mementingkan keseim bangan dalam semua aspek kehidupan: individual maupun social.
3). Islam menuntut manusia agar melaksanakan sistem kehidupan yang berdarkan atas norma-norma kebajikan clan jauh dari kejahatan. Islam memerintahkan perbuatan yang ma'nifdan mengatahui perbuatan yang mungkar, bahkan manusia dituntut supaya menegakkan keadilan dan memberantas segala kejahatan.
PENUTUP
Kesimpulan
Tidak bisa dipungkiri bagi manusia bahwa kegunaan ilmu terhadap kehidupan manusia sangat penting dan memberikan pencerahan. Aksiologi sebagai produk dari ilmu pengetahuan telah banyak mengubah kehidupan manusia di bumi. Ilmu pengetahuan tidak ada yang bebas nilai, karena sesungguhnya yang pelajari dari dari ilmu pengetahuan berasal dari tatanilai dan etika manusia.
Penerapan ilmu pengetahuan sangat terkait dengan aspek moral, dan etika, nilai. Islam memandang ilmu pengetahuan tanpa etika dan moral laksana orang yang berjalan tanpa arah. Karena kehadiran islam itu sendiri untuk menyempurnakan ahlak manusia yan awalnya tidak bermoral, menjadi orang yang bermoral, manusia yang sempurna dari sifat dan pikirannya.
Moral atau nilai berasal dari Agama, sementara ilmu pengetahuan mempelajari alam semesta dengan konotasi fisik. Relasi antara ilmu pengetahuan dan agama sangat terkait karena terciptanya alam semesta dari Allah Swt yang disebut transcendental atau metafisik (ghaib). Tuhan itu nyata meskipun tidak bisa diraba dan dilihat, tetapi adanya alam semesta ini bukti oadanya tuhan.
Oleh karena itu, filsafat barat dan filsafat islam sangat berbeda. Karena objek kajiannya berbeda, filsafat islam mengenal fisik, sistematis, metafisik, sementara filsafat barat bersumber kepada fisik dan sismtematis semata. Sehingga filsafat islam lebih kaya dalam khazanah ilmu penetahuan dari pada filsafat barat.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maududi, Islamic way of Life, Lahoren Islamic Publication, 1993 Emayulia Satria, Hakikat ilmu: Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi, Jurnal UINSU, Vol 3 No3 tahun 2016
Harry Hamersma, Filsafat Eksistensi, (Jakarta, Gramedia,1985)
Jalius Jama. Filsafat Ilmu. (Padang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang, 2008) Hal 6
Jujun S Suriasmantri, Filsafat ilmu, sebuah pengantar popular, (Jakarta, Sinar harapan, 2005)
Jujun S. Suriasumanteri. Islam dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik, Jakarta Gramedia,1993
Kontowijoyo, islam sebagai ilmu: epistimologi, metodologi dan etika, jakarta Teraju,2005
Louis Kattsoff, Pengantar Filsafat (V; Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992),
Maqbul Halim, 2004. Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan. Online, Rapar Hendrik, pengantar Logika, asas-asas penalaran sistematik, (Kanisius, Jogjakarta,1996)
Frans Magnis Suseno, Etika dasar, Masalah pokok filsafat etika, (Jogjakarta: Kip,1993)
Zainudin, Filsafat dalam perspektif islam, Jurnal Al-harakah, No2 Vol 3, ahun 2001, malang, http://www.geocities.com. Diakses 29 Juli 2016.
Komentar
Posting Komentar